KURSYI IDAMANKU, ITU
![]() |
| PR_10022026 |
"Ini kursi yang dipesan untuk kita kan?" Rida yang menengok ke arah telunjuk Alin memyipit dan berkomentar singkat, "Sepertinya memang untuk di lantai ini." Sambil melanjutkan pekerjaannya, Alin kembali berkomentar, kalau memang benar ya kita bakal dapat duduk nyaman, mba. Seperti di lantai atas, kursinya juga modelan begini". Rida tersenyum dan diapun memiliki pikiran yang sama. Kursi empuk untuk kerja yang nyaman. "Paling gak aku bisa menikmati duduk santai", gumam rida selaras dengan lirikan kembali kedua netranya yang menghububgkan otaknya dengan kenangan sebelumnya.
Baru terpisah kurang lebih 3 tahun, rasanya masih hangat ingatan tentang suasana di lantai atas. Kenyamanan dan fasilitas lengkap membuat hati dan pikiran berlabuh mapan di tempatnya dengan fokus kerja yang penuh energi karena yang Rida butuhkan ada di sana. Ruangan berpendinging dengan suhu ruangan yang bisa diatur, membuat tubuh nyaman. Jika haus dan ingin membuat minuman dingin, maka ada lemari pendingin dan beberapa jenis minuman dalam bentuk sachet yang bisa dijadikan pilihan. Jika lapar dan butuh makanan cepat saji maka ada microwave yang setia menunggu untuk digunakan. Atau bila terasa lelah, sekedar bersandar di kursi sendiripun bisa langsung eksekusi. Kalaupun mau bertanya, mengkonfirmasi sesuatu, kursi yang dia duduki bisa seputar 360 derajat tanpa perlu berdiri dan berjalan ke teman kerja. Di euangan itu pun ada sepeda statis yang membantu karyawan untuk berolah raga kaki dan tangan sejenak atau sekedar merenggangkan otot-otot yang pegal. Pengalaman yang melenakan karena menokmati semua fasilitas tersedia membuat kinerja karyawan melonjak. Semua itu saat ini jauh seperti jauh api dari panggang.
Sama seperti beberapa karyawan lain yang ditempatkan di lantai ini, maka pengalaman yang Rida alami berbeda dalam beberapa hal. Kondisi ruangan yang sempit karena berada di lorong, pendingin udara dalam bentuk kipaa angin, kursi kayu, dan tempat minum listrik. Minggu lalu Rida tersenyum penuh harapan jika di antara kursi kursi baru yang masih terbungkus rapi itu akan jadi miliknya. Tetapi pagi ini setelah dia masuk dan berbelok menuju ke mejanya, maka yang dia dapati masih kursi kayu yang sama. Sama kerasnya dan kaku serta tidak bisa dijadikan aandaran leher atau kepala karena ukurannya yang tinggi. "Ya, kembalikan ke niat awal; bekerja dan bersungguh-sungguh menjaga amanah. Tapi, jangan juga berharap pada manusia karena itu bisa jadi menyakitkan." Penggalan kalimat itu pun meredakan keresahan Rida dan menetralisir rasa tidak nyaman.



