HUBUNGAN BAIK
| https://www.parapuan.co/read/533524075/5-tips-membangun-hubungan-baik-dengan-pelanggan-kuncinya-komunikasi |
Langkah gontai Ifa menelusuri lorong Rumah Sakit serta kondisi suaminya yang semakin buruk menambah beban pikirannya sebagai istri, juga ibu dari dua orang anak. Informasi yang tersampaikan tadi pagi tentang hidup suaminya yang terekam jelas dalam ingatannya serta hal terburuk yang harus dia siapkan jika sewaktu-waktu sang maha Pencipta memanggil kekasihnya tercinta. Tetes airmata turun tanpa permisi dan itu menambah kesedihannya karena sebagai seorang ibu, dia pun memiliki tanggung jawab lain untuk memastikan asap dapur mengepul dengan lancar. Satu yang dia putuskan, meminta bantuan tetangga sekaligus teman anak sulungnya agar periuk nasinya aman terkendali.
Di sisi lain, Desi sedang sibuk mengurusi kebutuhan keluarganya yang kebetulan hari Sabtu dan hari libur untuk suami dan ketiga anaknya. Saat dia menghidangkan makanan di meja makan. Suara salam terdengar di depan pintu rumahnya. "Mba Ifa, masuk mba. Silakan duduk." Ifa masuk denagn gerakan lambat seolah tidak ingin mengganggu ketenangan keluarga temannya. Sedangkan Desi melihat gelagat buruk dari penampakan wajahnya yang sembab seperti sedang dirundung masalah. "Maaf mba Desi, aku datang ke sini tanpa meminta izin terlebih dahulu. Aku mau minta tolong kamu, bisakah?" Terbata-bata, Ifa menyodorkan sebuah pertanyaan langsung tanpa prolog. "Ada maslah apa mba? Apakah ini tentang mas Danu?" Ifa menahan sesak di hatinya seraya mengganggukan kepalanya. Sambil meneteskan airmata, ifa menyampaikan maksud hatinya, "Bisakah mba Desi menggantikan aku selama dua minggu di Laundry "Kucek-in"?" Aku gak bisa ambil upah ku sebelum satu bulan, sedangkan kondisi mas Danu makin lama makin menurun". Desi yang menyimak penuturan teman baiknya ikut meneteskan air mata. "Insya Allah aku bantu mba, aku akan izin ke suami dulu ya. Mba Ifa fokus ke suami ya. Anak anak mba juga insya Allah kuat ya Aamiin. Sekarang mba mau pulang? atau ke tempat kerja terlebih dahulu?" Ifa menjawab sambil tersenyum, "Alhamdulillah terima kasih mba, nanti upah dua minggu nya aku bayarkan setelah aku dapat rezeki lain ya. Hari ini aku libur kerja mba. Aku mau pulang dan menitipkan anak anak ke Bu de Sri. semoga beliau mau dititip kan Angga dan Ara". Ifa memeluk Desi dan pamit. "Hati-hati di jalan ya mba. Nanti sore minta Angga datang ke sini ya mba, ada titipan dari bu RT". Desi mengantar Ifa sampai gerbang rumahnya. Dia paham betul bagaimana perasaan temannya dalam kondisi yang berat tersebut.
Desi memulai kerjanya di Laundry "Kucek-in" keesokan harinya. setelah mendapat izin dia pun memastikan bila semua kebutuhan keluarga terpenuhi dan pekerjaan sambilannya sebagai pekerja lepas pun masih bisa ditangani. Sementara itu, pemilik Laundry yang mengetahui bila Ifa digantikan Desi memberikan izin dan arahan tentang tugas yang harus Desi kerjakan serta hari libur yang bisa dia ambil untuk dua minggu ke depan sebagai pengganti ifa. Desi pun ikut membantu memantau kedua anak Ifa dan menjamu mereka selepas pulang sekolah. Anaknya yang sulung berteman baik dengan Fatih, anak Ifa dan di satu kelas yang sama di SD negeri di dekat kediaman mereka. Desi pun tidak merasa risih menjadi pegawai laundry karena dia merasa mendaoat ilmu dan pengalaman selama bekerja. Proses kerjanya tidak hanya mencuci serta menggosok pakaian dan mengemasnya dalam plastik, tetapi alur kerja administrasi yang runut agar kejelasan alur kerja nya rapi serta arus masuk dana yang masuk serta keluar dapat termonitor dengan baik secara maya melalui link drive yang lansung diawasi pemilik. Ilmu yang sebagian orang remeh temeh, tetapi bagi Desi, seorang ibu rumah tangga, semua alur kerja laundry itu memberi peluang lain yang bisa dia adaptasi jika nanti membuka usaha.
Tidak terasa hampir 14 hari kerja yang dilakoni Desi bersama timnya yang penuh dinamika; berhubungan dengan sesama pegawai, mengisi link administrasi, membuat laporan kerja harian serta rapat evaluasi mingguan. Sayangnya, di hari ke 12 kabar duka datang dari mba Ifa. Suaminya dipanggil yang Maha Kuasa dan hari itu keluarganya berduka. Desi terenyuh ketika anak sulung Ifa datang ke tempat kerja Desi hanya untuk mengabarkan jika sang ayah meninggal di rumah sakit tadi malam dan pagi ini jenazahnya sampai ke rumah duka. Desi pun mengabarkan berika tersebut kepa pemilik dan pegawai serta meminta izin untuk datang melawat. Desi bisa membayangkan bagaimana perasaan teman baiknya ditinggalkan teman hidup dan mendapat amanah baru, menghidupi, mendampingi kedua anaknya dalam kondisi lemah. Desi mengirim pesan singkat kepa suaminya dan memintanya membantu pemakaman suami mba Ifa. Fatih yang menemani Desi ke rumahnya hanya terdiam dan terlihat kesedihan di kedua matanya. "Fatih, ikhlaskan ayah ya. Ayah sudah gak sakit lagi. Allah maha Kasih sayang ayah kamu. Insya Allah, bunda Ifa juga sudah ikhlas. Fatih temani bunda dan adik ya, jadi anak salihnya ayah dan bunda". Fatih hanya mengaggukan kepalanya seraya bertutur lemah, "Insya Allah bu, aku sayang ayah. Aku akan temani bunda dan adik. Aku akan jadi anak salih". Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah duka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar