PASTI ADA JALAN
| https://pe.linkedin.com/company/pasti-ada-jalan |
Sudah lebih dari satu pekan semenjak keluarga Ifa ditinggal sang tulang punggung keluarga, Ifa sudah membuat beberapa keputusan besar yang menyangkut masa depan kedua anaknya. Sadar akan perannya yang saat ini sebagai ibu dan sekaligus pencari nafkah, Ifa sudah menyusun apa saja pekerjaan yang sudah dia data untuk dijadikan pegangan awal agar periuk nasi tetap mengepul. Pekerjaan yang dilakoninya sat ini adalah menjadi buruh cuci gosok di komplek perumahan mewah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya juga mengambik pekerjaan sampingan dengan tugas yang sama di Laundry "kucek-in." Dari dua sumber tersebut Ifa bisa membayar sewa rumah petakannya dan membeli kebutuhan dasar sembako. Sedangkan untuk biaya kebutuhan sekolah Farhan, insya Allah cukup dari beasiswa KJP. Ifa yakin, rezeki itu sudah Allah SWT yang mengatur dan manusia itu sendirilah yang menjemputnya.
"Assalalmu'alaikum, bunda. Abang pulang".
Suara keras dari pintu depan membangunkan Ifa dari lamunannya.
"Wa'alaikum salaam". Sahut Ifa sambil membuka kunci pintu.
"Alhamdulillah, abang sudah pulang. Sini bang duduk dulu di sini".
Sambutan manis sang bunda yang lembut disertai senyum cerah di wajahnya membuat Farhan bersemangat dan melupakan lelahnya membawa kantong besar yang terletak di luar pintu.
"Farhan bawa ini bunda". Sambil menunjuk kantong plastik besar dan dia angkat dari luar. Ifa terkejut karna isinya pasti berat.
"Apa ini bang?" Sambil bertanya, Ifa membuka tali plastik berwarna merah tersebut. "
Itu bingkisan sembako dari sekolah bu buat anak yatim." Jelas bang Farhan. Sekilas raut wajah Ifa membeku karena tidak memyangka Allah memberi keluarganya rezeki.
"Masha Allah, Alhamdulillah, kita dapat sembako. Kamu bisa dapat ini kok cepat bang?"
"Pak Tama yang memberi tahu Farhan kalau Farhan dapat jatah sembako dari donatur sekolah".
"Sampaikan terima kasih bunda ya bang ke sekolah juga kre donatur serta pak Tama. Semoga Allah memberi balasan kebaikan. Aamiin".
Setelah di cek apa saja yang mereka dapatkan, Ifa menyimpan bingkisan tersebut sesuai tempatnya. Beras yang berisi lima kilo dimasukan ke toples besar tempat penyimpanan beras. Mie instant, kecap, saos sambal, teh celup, gula pasir, minyak goreng dan terigu di simpan di lemari makan. Sedangkan satu kotak telor yang berisi 16 butir dimasukkan ke dalam kulkas.
Ungkapan syukur di bibir Ifa terus terucap. Betapa maha Baiknya sang Pencipta, ketika dia membuat rencana-rencana kerja untuk mengumpulkan dana kebutuhan keluarga, Allah memberinya rezeki dari jalan yang tidak dia duga.
"Ya Rahman, ya Kariim. Terima kasih atas rezeki sehat, materi dan kebersamaan keluarga kecil kami." Sebait do'a Ifa panjatkan dan setetes airmata jatuh di pipinya.
"Ayah, kamu yang tenang ya di sana. Kami baik-baik saja di sini". Ifa melangkah masuk ke dapur untuk menyiapkan makan bersama kedua hatinya siang itu.
Makan bersama yang ifa rasakan selama lebih dari seminggu itu memang berbeda karena mereka bertiga. Celetukan Farhan dan respon Diva yang sesekali membuat Ifa tersenyum mengisi kekosongan hatinya yang sudah membiaakan diri dengan situasi baru.
"Bunda, sudah lebih dari seminggu demenjak ayah dimakamkan, keluarga nenek kokntidak ernah jenguk kita lagi?" Pertanyaan polos yang terlontar dari ucapan Farhan menyentak kesadaran Ifa tentang satu hal. Hubungan keluarga yang kurang dekat dengan keluarga ibu mertuanya, ditambah meninggalnya putra kesayangan mereka meyesakkan dadanya dan yang terucap hanyalah nada datar yang sebisa mungkin Ifa buat biasa saja. "Mungkin nenek dan bu de bu de mu sibuk, bang. Mereka juga kan tinggalnya berjauhan". hanya kalimat itu saja yang terucap dari bibir Ifa, dan selebihnya dia mengajak kedua anaknya fokus menikmati makan siang menjelang sore itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar