HARI BARU: TIDAK MENYERAH
Keidupan berjalan seperti roda. Dia berputar ke atas lanjut ke bawah. Seperti aku yang sudah resmi berubah status kepegawaian menjadi honorer tepat di tanggal 11 September 2026. Sebernarnya putusan tersebuit sudah terbayang dan mimpi-mimpi yang mendukung pun kerap hadir dalam tidurku selama enam bulan terakhir. Di sisi lain, aku yakin bila putusan tersebut adalah bagian takdir hidupku dan menjadi tantangan yang ditugaskan "Allah SWT" untuk melihat seberapa besar nyaliku menjalani hidup setelah semuanya berubah. Hati kecilku bersedih, rasa kecewa mendominasi situasi saat akhirnya kata itu muncul namun aku juga memahami satu hal. Allah memberikan jalan lain yang mungkin jauh lebih baik karena sejatinya lapak-lapak rezeki Allah itu luas seperti lautan lepas, tinggal kita yang seharusnya mencari, menelusuri, menggali dan menemukan mana yang baik, halal, juga berefek berkah untuk diri sendiri, keluarga, orang tua dan masyarakat. Inilah hari baru untuk aku buktikan bila apapun kondisinya, aku harus profesional karena aku sudah menjadi ibu profesional untuk situasi di manapun dan apapun kondisinya, karena ini adalah tempat bermain baru atau new playground yang isinya kita yang jalankan. Tidak boleh ada kata menyera atau mengeluh. Yang harus dipasang dalam pikiran kita adalah, kita bisa karena kita mampu dan karena kita mampu maka yang terjadi hanyalah perencanaan yang baik, eksekusi kerja yang terarah dan target yang diraih adalah standar kerja profesional yang berakhir pada penerimaan dan penghargaan klien.
Hari pertamaku bekerja sebagai pekerja lepas (Freelancer) adalah menjadi pendamping penutur asli (Native speaker) di kelas pelatihan guru. Dengan minimnya informasi tentang apa saja yang akan disajikan di kelas nanti menjadi awal tantangan untuk diuraikan menjadi sebuah kegiatan satu paket yang berjalan selaras dengan apa yang nanti akan diberikan oleh penutur asli. Selama persiapan kelas dan sebelum harinya, Si penutur asli bertanya seperti apa gambaran yang sebaiknya dipresentasikan, Aku pun memberikan tanggapan singkat tetapi beliau dapat merealisasikannya di kelas dengan sangat baik. Berbekal belanja ide dari sebuah acara kuis yang viral, maka aku pun menyusun dua kegiatan di awal sebagai pemanasan. Lalu dilanjutkan dengan kehadiran penutur asli yang memberikan informasi tentang dirinya dan diselingi oleh keusilanku dengan memberikan pertanyaan yang harus mereka jawab dalam bahasa Inggris untuk melonggarkan ketegangan karena kebetulan tamu yang diundang belum bisa berbicara bahasa Indonesia dan itu menjadi titik penting untuk semua peserta berani berbahasa Inggris.
Selama dua jam yang mendebarkan sampai akhirnya sesi photopun selesai dan kami berpisah dengan rasa nyaman karena para peserta merasakan mendapat pengalaman baru yang langsung datang ke kelas mereka. Wajah-wajah tegang di awal pertemuan pecah saat interaksi antara peserta dan penutur asli bergulir. Suka atau tidak, setiap peserta mendapat giliran menyampaikan info seputar mereka. Sampai akhirnya saat terakhir acara foto bersama, terlihat kelenturan rasa di antara para peserta dan penutur asli. Seluruh kegiatan berakhir dengan lamabaian tangan dan pernyataan sampai bertemu kembali di lain kesempatan menutup rangkaian acara hari itu. Lega rasanya, aku mengawal tugas tersebut bermodalkan persiapan standar, komunikasi dan improvisasi saat di engah-tengah kegiatan. Ucap syukur karena tanpa embel-embel wakil resmi, aku tetap bisa mempertahankan mutu layanan klien bukan karena berharap dan mencari simpati dari klien ataupun lembaga tetapi karena label profsional yang sudah tertanam dalam aliran kinerja seorang trainer lah yang menjaga semua hal dalam bingkai utuh. Ini adalah awal bergerak di atas kaki sendiri bukan karena sombong akan kapasitas diri tetapi sebagai bentuk amanah yang harus menjadi tanggung jawab profesi.


