Selasa, 11 Agustus 2026

Peristiwa #14

  BAHAGIA ITU SEDERHANA 

SEPERTI DAPAT DURIAN RUNTUH

https://resipurnama95.blogspot.com/2017/09/rezeki-itu-diikhtiarkan.html

Setiap  hari Selasa adalah waktunya Fita berada di kantor alias Work From Home.

Senin, 10 Agustus 2026

Warna Cerita #5

 BERAWAL DARI NIAT BAIK

https://umma.id/post/niat-yang-baik-pasti-hasilnya-terbaik-1326676?lang=id


Sore jelang malam, Ifa dan kedua buah hatinya bersiap melaksanakan sholat Magrib. Kebiasaan shalat berjamah sebelumnya tetap terjaga, walaupun saat ini yang menjadi imamnya adalah si sulung. Kebersamaan yang mereka bangun melalui shalat berjamaah menambah kedekatan hubungan di antara mereka.

 "Bunda," colek Farhan. "Bunda melamun lagi?", Farhan memperhatikan raut wajah bundanya yang terlihat lelah. 

"Gak, bang. Bunda teringat pesan mama Desi tentang  KJP kamu bang." 

" O, iya bunda." Farhan tersenyum lebar.

"Kata pak Tama, pencairan KJP aku bulan Oktober, bunda. Insya Allah bunda gak bingung lagi untuk kebutuhan dekolah abang".

"Alhamdulillah, kita mendapat kabar baik lagi ya bang. Masya Allah, semoga KJP ade Diva juga cair ya bang".

"Insya Allah, bunda. Ade kan juga udah daftar ulang KJP bareng abang bulan Juli kemarin". 

"Nanti kita buat syukuran ya bang, kalau KJP kamu dan ade cair. Bunda mau bikin nasi kotak dan es teh manis di hari Jum'atnya"

"Siap bunda. Abang juga mau bantu belanja barang barang nya."

"Ade juga, bunda. Aku ma bantu bunda nyiapin kotak-kotak nasi nya ya". Divapun ikut ambil suara.

"Terima kasih anak-anaknya bunda, kita akan berbagi karena niat kita diawal jika kita punya rezeki lebih, kita akan berbagi." Ifa memeluk kedua anaknya dengan penuh kehangatan.

"Bang, ade siapkan buku buku pelajaran untuk besok ya. Kalau ada tugas selesaikan dulu"

"Siap bunda! Bunda mau kemana?"

"Bunda mau siapkan makan malam. Menu kita malam ini nasi, sayur sop, telor ceplok dan kerupuk." Ifa berjalan menuju dapur yang jaraknya hanya disekat dengan triplek tipis.

"Ayo dek, kita beresin perlengkapan buat besok. Termasuk baju seragam, sepatu, kaos kaki dan topi juga dasi". Farhan menarik tangan adiknya menuju ruang depan. "Let's go bang!" Seru Diva bersemangat.

Ifa yang menyimak celoteh kedua anaknya pun bersyukur. Dia yang saat ini mengambilnperan ganda, berusaha untuk tetap menjaga hati dan pikirannya agar kehidupan yang dijalaninya berjalan lancar. Setelah makan malam selesai, Ifa berencana membuat daftar pengeluaran⁰ bulanan dan dijabarkan ke dalam rencana mingguan dan nanti rinciannya akan dijabarkan dalam laporan belanja harian. Ifa yakin niat yang diawali dengan tujuan dan cara yang baik, insya Allah menjadi mudah dan diberi kemudahan jalan. Ifa sadar, waktu yang akan mengujinya apakah dia sanggup menjalani amanah sebagai tulang punggu keluarga. Dia juga berjanji untuk tidak mengeluh atau meminta-minta toling kepada keluarga atau tetangganya. Seberat apapun proses hidup nanti yang dia hadapi, tekadnya untuk bertahan dan menjaga nama baik mendiang suaminya akan dia lakoni. 


 


 

Minggu, 09 Agustus 2026

Warna Cerita #4

PASTI ADA JALAN
https://pe.linkedin.com/company/pasti-ada-jalan

Sudah lebih dari satu pekan semenjak keluarga Ifa ditinggal sang tulang punggung keluarga, Ifa sudah membuat beberapa keputusan besar yang menyangkut masa depan kedua anaknya. Sadar akan perannya yang saat ini sebagai ibu dan sekaligus pencari nafkah, Ifa sudah menyusun apa saja pekerjaan yang sudah dia data untuk dijadikan pegangan awal agar periuk nasi tetap mengepul. Pekerjaan yang dilakoninya sat ini adalah menjadi buruh cuci gosok di komplek perumahan mewah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya juga mengambik pekerjaan sampingan dengan tugas yang sama di Laundry  "kucek-in." Dari dua sumber tersebut Ifa bisa membayar sewa rumah petakannya dan membeli kebutuhan dasar sembako. Sedangkan untuk biaya kebutuhan sekolah Farhan, insya Allah cukup dari beasiswa KJP. Ifa yakin, rezeki itu sudah Allah SWT yang mengatur dan manusia itu sendirilah yang menjemputnya. 

"Assalalmu'alaikum, bunda. Abang pulang".
Suara keras dari pintu depan membangunkan Ifa dari lamunannya. 
"Wa'alaikum salaam". Sahut Ifa sambil membuka kunci pintu. 
"Alhamdulillah, abang sudah pulang. Sini bang duduk dulu di sini". 
Sambutan manis sang bunda yang lembut disertai senyum cerah di wajahnya membuat Farhan bersemangat dan melupakan lelahnya membawa kantong besar yang terletak di luar pintu. 
"Farhan bawa ini bunda". Sambil menunjuk kantong plastik besar dan dia angkat dari luar. Ifa terkejut karna isinya pasti berat. 
"Apa ini bang?" Sambil bertanya, Ifa membuka tali plastik berwarna merah tersebut. "
Itu bingkisan sembako dari sekolah bu buat anak yatim." Jelas bang Farhan. Sekilas raut wajah Ifa membeku karena tidak memyangka Allah memberi keluarganya rezeki. 
"Masha Allah, Alhamdulillah, kita dapat sembako. Kamu bisa dapat ini kok cepat bang?" 
"Pak Tama yang memberi tahu Farhan kalau Farhan dapat jatah sembako dari donatur sekolah". 
"Sampaikan terima kasih bunda ya bang ke sekolah juga kre donatur serta pak Tama. Semoga Allah memberi balasan kebaikan. Aamiin".
Setelah di cek apa saja yang mereka dapatkan, Ifa menyimpan bingkisan  tersebut sesuai tempatnya. Beras yang berisi lima kilo dimasukan ke toples besar tempat penyimpanan beras. Mie instant, kecap, saos sambal, teh celup, gula pasir, minyak goreng dan terigu di simpan di lemari makan. Sedangkan satu kotak telor yang berisi 16 butir dimasukkan ke dalam kulkas. 

Ungkapan syukur di bibir Ifa terus terucap. Betapa maha Baiknya sang Pencipta, ketika dia membuat rencana-rencana kerja untuk mengumpulkan dana kebutuhan keluarga, Allah memberinya rezeki dari jalan yang tidak dia duga. 
"Ya Rahman, ya Kariim. Terima kasih atas rezeki sehat, materi dan kebersamaan keluarga kecil kami." Sebait do'a Ifa panjatkan dan setetes airmata jatuh di pipinya.
"Ayah, kamu yang tenang ya di sana. Kami baik-baik saja di sini". Ifa melangkah masuk ke dapur untuk menyiapkan makan bersama kedua hatinya siang itu. 

Makan bersama yang ifa rasakan selama lebih dari seminggu itu memang berbeda karena mereka bertiga. Celetukan Farhan dan respon Diva yang sesekali membuat Ifa tersenyum mengisi kekosongan hatinya yang sudah membiaakan diri dengan situasi baru.
"Bunda, sudah lebih dari seminggu demenjak ayah dimakamkan, keluarga nenek kokntidak ernah jenguk kita lagi?" Pertanyaan polos yang terlontar dari ucapan Farhan menyentak kesadaran Ifa tentang satu hal. Hubungan keluarga yang kurang dekat dengan keluarga ibu mertuanya, ditambah meninggalnya putra kesayangan mereka meyesakkan dadanya dan yang terucap hanyalah nada datar yang sebisa mungkin Ifa buat biasa saja. "Mungkin nenek dan bu de bu de mu sibuk, bang. Mereka juga kan tinggalnya berjauhan". hanya kalimat itu saja yang terucap dari bibir Ifa, dan selebihnya dia mengajak kedua anaknya fokus menikmati makan siang menjelang sore itu.


Rabu, 05 Agustus 2026

Warna Cerita #3

 CERMIN HIDUP

https://www.kompasiana.com/budiamin/66c4688ec925c42552460572/belajar-hidup-dari-pengalaman-orang-lain-cermin-untuk-menjadi-bijaksana#goog_rewarded

Setekah pemakaman jenazah suami Ifa selesai,perlahan kumpulan orang yang mengantar nya beranjak pergi meninggalkan gundunkan tanah merah yang masih basah.  Ifa dan kedua anaknya masih setia berada di dekat pusara sang ayah dan suami terkasih. Enggan rasanya untuk bangkit dan meninggalkannya sendiri. Desi dan sang suami yang menemaninya menepuk pelan bahu Ifa dan mengajaknya pulang. "Mba Ifa, ayo kita kembali ke rumah. Kasihan anak-anak sudah lelah dan butuh istirahat. Mba Ifa juga harus rehat sebentar". Bujukan lembut Desi meredakan keletihan Ifa dan dia pun memberi anggukan samar tanda dia menyetujui ajakan temannya. 

Hari beranjak petang, rumah tinggal Ifa dan kedua anaknya mulai sepi. Ruang tamu sudah rapi seperti semula. Yang tertinggal hanya keheningan suasana rumah yang merebak saat adzan Magrib berkumandang. Desi dan tetangga yang masih tinggal mengajak mereka sholat berjamaah dan mendo'akan mediang suami Ifa. Di sisi lain, kedua anak Ifa masih betah berdiam diri. Keceriaan yang biasanya mewarnai malam-malam mereka berubah seperti ruang ujian, hening. Desi menggenggam tangan Ifa dan memberikan dukungan moral, "Mba Ifa, jangan khawatir ya. Mba tak sendiri, kami para tetangga siap membantu. Kita akan menyediakan makan dan minum untuk tujuh hari ke depan. Mba Ifa istirahat dan tenangkan diri ya. Insya Allah ada jalan untuk terus mendampingi putra-putri mba." "Terima kasih mba Desi. Aku sangat berayukur punya teman baik seperti kamu. Untuk bantuan kerja di laundry pun sudah selesai besok lusa. Aku akan mulai masuk kembali mba, bair periuk nasi kami tetap ngebul". Senyum tulus yang terlihat dari raut wajah Ifa menandakan kesiapannya menjalani hidup sebagai ruang tua tunggal.

Desi yang sampai di rumah malam hari, menemui keluarganya di ruang makan. "Assalamu'alaikum semua, maaf ya bunda pulang larut hari ini. Ayah dan anak anak sedang makan apa? Sepertinya enak". Si sulung menjawab, " Ini masakan ayah, bunda. Rasanya yummy" sambil menunjukkan jempol nya ke atas. "Wah, bunda mau dong ikutan makan bareng kalian." "Tenang bunda, ini ada bagian bunda. Ayah udah misahin lauk nya buat bunda. Pokoknya ayah is the best!" Si bontot memberikan dua jempolnya ke atas. Desi tersenyum bahagia, melihat keluarga nya berkumpul utuh di ruang makan saat ini. Suami dan ketiga anaknya lengkap dan sehat serta sedang menikmati rezeki makan malam yang nikmat. Sejenak dia teringat keluarga teman baiknya, Ifa. Seperti cermin yang sedang ada dihadapannya, Desi dapat mereka-reka seperti apa suasana hati Ifa dan kedua anaknya setelah kepergian orang terkasih mereka. Hanya ada kata-kata syukur yang terucap dari lisan Desi karena dia dan keluarganya berada dalam kondisi sehat, dan berkumpul dalam rumah yang hangat. "Semoga mba Ifa dan anak-anaknya dapat melalui hidup dengan lancar dan mudah", hembusan nafas Desi menutup hari beratnya malam ini. 

Hari baru menyapa, hidup keluarga Ifa berjalan dalam suasana baru. Hidupnya yang sempat bahagia bersama suami yang membersamainya telah pergi dan yang dia hadapi mulai hari ini adalah tantangan hidup menafkahi keluarganya dengan segenap jiwa dan raganya agar tetap lancar. Tidak ada yang menyangka bila hidupnya saat ini menjadi bagian terberat terutama tentang bagaimana mencukupi kebutuhan keluarga dengan pekerjaannya sebagai tukang cuci di laundry kucek-in. Meminta bantuan kepada keluarga suaminya tidak mungkin Ifa lakukan mengingat hubungan yang kurang baik dengan mertua dan saudar-saudara kandung mendiang suaminya. Ifa mengandalkan ilmu diploma nya di bidang akutansi yang sayangnya belum bisa dia manfaatkan karena dia memilih bekerja di tempat lain yang upahnya harian, sebagai asisten rumah tangga di komplek perumahan seberang kampung tempat tinggal nya saat ini.

Warna Cerita #2

 HUBUNGAN BAIK

https://www.parapuan.co/read/533524075/5-tips-membangun-hubungan-baik-dengan-pelanggan-kuncinya-komunikasi

Langkah gontai Ifa menelusuri lorong Rumah Sakit serta kondisi suaminya yang semakin buruk menambah beban pikirannya sebagai istri, juga ibu dari dua orang anak. Informasi yang tersampaikan  tadi pagi tentang hidup suaminya yang terekam jelas dalam ingatannya serta hal terburuk yang harus dia siapkan jika sewaktu-waktu sang maha Pencipta memanggil kekasihnya tercinta. Tetes airmata turun tanpa permisi dan itu menambah kesedihannya karena sebagai seorang ibu, dia pun memiliki tanggung jawab lain untuk memastikan asap dapur mengepul dengan lancar. Satu yang dia putuskan, meminta bantuan tetangga sekaligus teman anak sulungnya agar periuk nasinya aman terkendali.

Di sisi lain, Desi sedang sibuk mengurusi kebutuhan keluarganya yang kebetulan hari Sabtu dan hari libur untuk suami dan ketiga anaknya. Saat dia menghidangkan makanan di meja makan. Suara salam terdengar di depan pintu rumahnya. "Mba Ifa, masuk mba. Silakan duduk." Ifa masuk denagn gerakan lambat seolah tidak ingin mengganggu ketenangan keluarga temannya. Sedangkan Desi melihat gelagat buruk dari penampakan wajahnya yang sembab seperti sedang dirundung masalah. "Maaf mba Desi, aku datang ke sini tanpa meminta izin terlebih dahulu. Aku mau minta tolong kamu, bisakah?" Terbata-bata, Ifa menyodorkan sebuah pertanyaan langsung tanpa prolog. "Ada maslah apa mba? Apakah ini tentang mas Danu?" Ifa menahan sesak di hatinya seraya mengganggukan kepalanya. Sambil meneteskan airmata, ifa menyampaikan maksud hatinya, "Bisakah mba Desi menggantikan aku selama dua minggu di Laundry "Kucek-in"?" Aku gak bisa ambil upah ku sebelum satu bulan, sedangkan kondisi mas Danu makin lama makin menurun". Desi yang menyimak penuturan teman baiknya ikut meneteskan air mata. "Insya Allah aku bantu mba, aku akan izin ke suami dulu ya. Mba Ifa fokus ke suami ya. Anak anak mba juga insya Allah kuat ya Aamiin. Sekarang mba mau pulang? atau ke tempat kerja terlebih dahulu?" Ifa menjawab sambil tersenyum, "Alhamdulillah terima kasih mba, nanti upah dua minggu nya aku bayarkan setelah aku dapat rezeki lain ya. Hari ini aku libur kerja mba. Aku mau pulang dan menitipkan anak anak ke Bu de Sri. semoga beliau mau dititip kan Angga dan Ara". Ifa memeluk Desi dan pamit. "Hati-hati di jalan ya mba. Nanti sore minta Angga datang ke sini ya mba, ada titipan dari bu RT". Desi mengantar Ifa sampai gerbang rumahnya. Dia paham betul bagaimana perasaan temannya dalam kondisi yang berat tersebut.

Desi memulai kerjanya di Laundry "Kucek-in" keesokan harinya. setelah mendapat izin dia pun memastikan bila semua kebutuhan keluarga terpenuhi dan pekerjaan sambilannya sebagai pekerja lepas pun masih bisa ditangani. Sementara itu, pemilik Laundry yang mengetahui bila Ifa digantikan Desi memberikan izin dan arahan tentang tugas yang harus Desi kerjakan serta hari libur yang bisa dia ambil untuk dua minggu ke depan sebagai pengganti ifa. Desi pun ikut membantu memantau kedua anak Ifa dan menjamu mereka selepas pulang sekolah. Anaknya yang sulung berteman baik dengan Fatih, anak Ifa dan di satu kelas yang sama di SD negeri di dekat kediaman mereka. Desi pun tidak merasa risih menjadi pegawai laundry karena dia merasa mendaoat ilmu dan pengalaman selama bekerja. Proses kerjanya tidak hanya mencuci serta menggosok pakaian dan mengemasnya dalam plastik, tetapi alur kerja administrasi yang runut agar kejelasan alur kerja nya rapi serta arus masuk dana yang masuk serta keluar dapat termonitor dengan baik secara maya melalui link drive yang lansung diawasi pemilik. Ilmu yang sebagian orang remeh temeh, tetapi bagi Desi, seorang ibu rumah tangga, semua alur kerja laundry itu memberi peluang lain yang bisa dia adaptasi jika nanti membuka usaha.

Tidak terasa hampir 14 hari kerja yang dilakoni Desi bersama timnya yang penuh dinamika; berhubungan dengan sesama pegawai, mengisi link administrasi, membuat laporan kerja harian serta rapat evaluasi mingguan. Sayangnya, di hari ke 12 kabar duka datang dari mba Ifa. Suaminya dipanggil yang Maha Kuasa dan hari itu keluarganya berduka. Desi terenyuh ketika anak sulung Ifa datang ke tempat kerja Desi hanya untuk mengabarkan jika sang ayah meninggal di rumah sakit tadi malam dan pagi ini jenazahnya sampai ke rumah duka. Desi pun mengabarkan berika tersebut kepa pemilik dan pegawai serta meminta izin untuk datang melawat. Desi bisa membayangkan bagaimana perasaan teman baiknya ditinggalkan teman hidup dan mendapat amanah baru, menghidupi, mendampingi kedua anaknya dalam kondisi lemah. Desi mengirim pesan singkat kepa suaminya dan memintanya membantu pemakaman suami mba Ifa. Fatih yang menemani Desi ke rumahnya hanya terdiam dan terlihat kesedihan di kedua matanya. "Fatih, ikhlaskan ayah ya. Ayah sudah gak sakit lagi. Allah maha Kasih sayang ayah kamu. Insya Allah, bunda Ifa juga sudah ikhlas. Fatih temani bunda dan adik ya, jadi anak salihnya ayah dan bunda". Fatih hanya mengaggukan kepalanya seraya bertutur lemah, "Insya Allah bu, aku sayang ayah. Aku akan temani bunda dan adik. Aku akan jadi anak salih". Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah duka.

Selasa, 04 Agustus 2026

Warna Cerita #1

                             IMAJINASI

https://www.hasanjufri.com/2023/06/apa-sih-imajinasi-itu.html


Sepanjang jalan menuju sekolah, Farhan berjalan cepat cenderung berlari karena tahu dia akan tiba terlambat di depan gernang sekolah dan itu artinya dia akan dapat peringatan “lagi” dari Satpam dan guru piket yang berjaga di depan sekolah. Farhan sendiri tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Akhirnya, Farhan bisa masuk ke sekolahnya setelah pak Satpam memberi lampu hijau. Dia berlari ke arah kelas yang terletak di ujung gedung. Kelas 7.9 adalah kelas urutan terakhir di rombongan belajarnya. Walaupun dia berada di kelompok terakhir tetapi dia memiliki mimpi untuk mendapatkan nilai 9 di semua mata pelajaran. Semoga impiannya itu menjadi nyata. 


Farhan menjadi salah satu siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri. Dia juga mendapat kesempatan beasiswa atau KJP sebagai bantuan pendidikan dari pemerintah. Bundanya senantiasa mengingatkan jika dana bantuan itu harus dimanfaatkan dengan prestasi akademik. Farhan pun sadar walau dia memiliki keterbatasan akses informasi, tetapi dia memiliki cara untuk memperolehnya. Ditambah, kebanyakan tugas sekolah terbantu dengan sumber informasi digital. Lagi-lagi Farhan harus berusaha keras menekan keinginannya untuk bermain-main melalui aplikasi dan meredamnya dengan berdiam diri di perpustakaan sekolah yang memiliki fasilitas digital informasi. ABG-Anak baru Gede- adalah julukan untuk remaja seusia Farhan yang senang berkelompok dan berkumpul dengan minat yang sama. Farhan sendiri senang bermain game online seperti yang sedang viral saat ini dan kelemahannya adalah gawai yang ada di rumahnya ternyata digunakan bersama, bundanya untuk berdagang, adiknya yang bersekolah kelas 4 serta adik bungsunya yang berada di kelas 1. Kelemahan inilah yang memaksa semua anggota keluarganya membatasi penggunaan gawai hanya untuk informasi pesan singkat. Selebihnya, hanya digunakan untuk keperluan utama; menelpon, mengisi form atau memberi kabar berita. Bunda yang menjadi pimpinan keluarga menanamkan sikap kebersamaan dan senantiasa menempatkan sesuatu sesuai prioritas penggunaannya. Farhan pun, sebagai anak sulung, diberi amanah menjadi contoh baik untuk kedua adiknya. Situasi inilah yang membuat Farhan rela memutus rantai bermain game aplikasi dan merubah haluan memilih membaca untuk menghabiskan waktu.


Farhan menghadapi kesulitan di awal niatnya memilih melipir ke perpustakaan untuk membaca, karena tempatnya yang sepi dan minim siswa yang mampir ke tempat itu menambah rasa malas untuk melangkahkan kakinya ke sana. Di sisi lain, dia pun kesulitan mengajak teman-temanya bergabung untuk sekedar datang dan membaca buku sesuai kesukaan mereka. Sehari, dua hari dan lanjut seminggu sampai minggu keempat Farhan menemukan rasa nyaman di perpustakaan. Selain tempatnya yang tenang, sejuk dengan fasilitas pendingin ruangan, di sana pun tersedia air minum untuk sekedar mengurangi haus saat berinteraksi di perpustakaan. Yang membuatnya mantap dan betah di tempat itu adalah kemudahan penggunaan komputer meja yang sudah dipasangkan dengan koneksi internet. Farhan mendapatkan keleluasaan menggunakan jejaring internet untuk mencari sumber untuk PR atau tugas sekolah juga membaca informasi ringan, berita sampai tontonan film pendek via kanal Youtube. Yang membuatnya bersyukur adalah semua fasilitas yang dinikmati tidak berbayar atau gratis, sehingga dia pulang dengan rasa puas, tenang dan nyaman. Pustakawan yang bertugas pun memberinya ilmu sederhana tentang merancang sesuatu melaui Canva. Dia pun semakin asyik mengulik dan berguru pada sang pustakawan - pak Tama. Farhan berimajinasi lagi tentang keinginannya memiliki cara mendapatkan masukan berupa uang dari fasilitas internet. Dia yang banyak bertanya tentang bagaimana cara menghasilkan uang lewat karya atau kerja sampingan mendapat dukungan dari pak Tama. “Pelan-pelan Farhan. Semua bisa menjadi uang bila kamu tahu caranya dan benar cara memperolehnya”. Semakin berbinar dan bersemangat remaja itu yang kemudian dia secara sukarela menjadi murid pak Tama. 


Minggu, 02 Agustus 2026

Peristiwa #13

 KABAR TIM

Menunggu bagi sebagian pekerja memiliki arti berbeda. Bagi yang terbiasa dengan kesibukan dan batas waktu penyelesaian projek mungkin akan terbiasa dengan dinamika naik turunnya motivasi untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya karena yang sasarannya adalah target kepuasan klien. Sebaliknya, bagi yang terbiasa menerima pesan maka akan mengikuti alur yang telah ditentukan. Yang pasti, bagi Niera, pekerjaan yang ditekuni selama lebih dari lima tahun sudah membawanya pada titik persiapan awal bahkan menentukan seperti apa projek yang akan berproses selama periode waktu tertentu. Ironisnya, saat ini kabar yang dia terima bukan untuk digarap sesuai bagian wewenangnya tetapi menunggu kabar tim yang harus dia ikuti dengan baik sebagai bagian dari prosedur operasional kerja. Akhirnya jalan tengah yang Neira ambil adalah berputar haluan dengan menjadikan client oriented sebagai fokusnya saat ini karena beberapa alasan.

Bertahun-tahun yang lalu, Neira memiliki kesempatan luas untuk mengembangkan sebuah program dan di situlah dia mengembangkan kemampuannya dengan bermodalkan mesin pencarian melalui internet yang mampu memfasilitasi kebutuhannya untuk memenuhi target pembelajaran baik yang sesuai program maupun sesuai keinginan konsumen. Hal tersebut menjadi tantangan terbesarnya karena ciri khas atau kekhususan materi permibtaan klien menjadi tanggung jawab besar untuk direalisasikan. Metode ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) menjadi jalan keluar strategis yang mempermudah penyelesaian paket modul belajar. Neira sendiri menyadari bila dirinya siap mempertanggung jawabkan kinerja nya dalam bentuk evaluasi klien pengguna dan penerima manfaat. Kondisi tersebut menjadi ritme yang penuh dinamika serta menjadi asahan keterampilan yang meningkatkan kapasitas dirinya dalam menyelesaikan target target kerja. Sampai pada satu titik semua yang dia lakoni berhenti dan berubah menjadi pihak "asing" yang tugasnya menunggu, menerima, menyampaikan dan melaporkan rutinitas saja. Peran yang Jauh berbeds dari rutinitas sebelumnya. Neira yang sudah terbiasa menganalisis kebutuhan klien, menurunkannya dalam perencanaan dan merampungkan materi dari A sampai Z. 

 Kondisi yang bertolak belakang dengan passionnya, membuat Neira mencari cara untuk tetap sama dan tidak terjungkal karena posisinya yang jauh di bawah. Sayangnya, dia hanya bisa menarik nafas dan inginnya tetap dilibatkan karena dia yakin dengan kemampuan menyusun materi pelatihan. Di sisi lain, dia tetap menyusun sesuai permintaan klien sesuai versinya dan langsung diaplikasikan di lapangan untuk melihat dan mengukur materi materi yang dia sampaikan diterima baik oleh peserta. Walau saat ini posisi nya jauh di luar jangkauan area, Neira memutuskan tetap menyusun materi dan mengembangkannya bukan untuk menjadi saingan dari tim yang ada tetapi untuk merawat dan mempertahankan kinerjanya dan terus mengasah kemampuannya karena klien akan menilai dari sisi kepuasan selama pelatihan. Satu hal yang Neira fokuskan saat ini, menjadi bagian sukses itu bukan hanya tentang peran besar yang diamanahkan tetapi bagaimana dirinya berbagi dan melayani klien dalam bingkai profesional.

 

Peristiwa #14

   BAHAGIA ITU SEDERHANA  SEPERTI DAPAT DURIAN RUNTUH https://resipurnama95.blogspot.com/2017/09/rezeki-itu-diikhtiarkan.html Setiap  hari S...