Minggu, 12 Januari 2025

Perjalanan Hidup #Tegar

TEGAR



Perjalanan hidup tidak selamanya menyedihkan atau menyenangkan. Pasti ada saja penggodanya, pasti ada saja ujiannya. Yang tua atau yang ,mudapun pasti mengalami perjalanan hidup masing masing dengan versi yang berbeda beda. Ada yang diberi kenikmatan, kekayaan, kemapanan hidup ada pula yang diberikan kesulitan, kesusahan dalam menjalani hidup sehari hari. Perjuangan dalam menjalani hidup sebagai seorang manusia harusnya dapat dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh karena manusia adalah makhluk sosial yang pastinya akan saling membutuhkan satu sama lain. Tidak ada yang tidak mungkin, sepanjang Allah SWT sang pencipta yang akan terus membersamai manusia. Bila diuji kenikmatan maka baiknya terus bersyukur dan menjaga sikap agar tetap rendah hati di hadapan manusia lainnya, sebaliknya bila Allah SWT memberi cobaan kesulitan hidup seperti kemiskinan maka cara yang baik adalah menjalani kehidupan dan ibadahnya dengan kesabarannya.

"It's easy to talk than to do", betul itu, banyak yang mengatakan sungguh mudah berkata kata daripada mengalami hal yang tidak membuat nyaman dan berakhir keputusasaan dan melahirkan keinginan untuk mengakhiri dengan cara yang tidak pantas. Manusia makhluk Allah SWT terbaik seharusnya memiliki ketahanan hidup yang jauh lebih baik dibanding makhluk lainnya, tetapi yang terjadi malahan manusia menjadi mudah memilih jalan pintas yang tidak pantas dia lakukan mengingat posisinya sebagai makhluk tertinggi di dunia.

Aku adalah salah satu makhluk perasa yang selalu memikirkan sebuah masalah dengan perasaan. berkecil hati adalah salah satu sifat buruk ku yang akan timbul terhadap reaksi sebuah masalah yang muncul rasa 'insecure' mendominasi ketika aku harus turun dan mundur karena kondisi yang mengharuskanku untuk berada di posisi tersebut. Walaupun demikian, ilmu dan pengalaman kerja yang membuatku mencari jalan untuk menjadi dewasa dan melihat dari sudut pandang yang lain. Bisa jadi takdir sudah Allah SWT tetapkan, tetapi berjuang untuk mendapat yang lebih baik pun harus tercapai paling tidak untuk mengurangi rasa sakit hati atau merasa disisihkan. Kembali menjadi pribadi yang profesional karena aku yakin semua karya atau hasil kerja kita bisa kita ukur dengan tingkat keberhasilannya sesuai kadar kepentingannya. 

Begitupun dengan kerja dan pekerjaan yang saat ini aku lakoni. Walau satu persatu keinginan, target dan mimpiku diamputasi tetapi berusaha untuk tetap memberikan yang terbaik alias profesional kerja menjadi tujuan nomor satu dan bekerja spenuh hati adalah bagian dari tahapan kesuksesan tersebut. Mau tidak mau, tidak ada kata menyerah, tidak boleh ada kata mundur atau tidak bisa bekerja baik. Jalan mengasah menjadi lebih baik adalah cara tepat agar konsistensi terjaga dan hasil terbaiklah yang bisa dinikmati orang lain.




Berbagi

"MARI BERBAGI"

“No one has ever become poor by giving.” — Anne Frank

"Kamu kerja, kamu dapat gaji bulanan, Wulan. kenapa kamu gak punya uang pas aku mau pinjam uang kamu? Kamu bohong ya?" Selidik Dikdik yang meimnjam uang kepadaku tapi kutolak dengan alasan aku gak punya uang seperti yang dia ajukan. Bukan bermaksud untuk menjadi orang kikir dan tidak peduli dengan kerabat, tetapi sebagian pendapatannya sudah dialokasikan 70% nya untuk shodaqoh. Yang terpikir Wulan untuk beberapa tahun terakhir ini adalah bagaimana dia menabung amalan baik untuk bekal akhiratnya. Walaupun terkadang dia harus membiasakan untuk konsisten karena kebutuhan hidup dia dan keluarganya terus meningkat, dia yakin jika niat dan motivasi memberinya adalah dilandasi pondasi amanah sehingga seberat apapun kondisi yang dia hadapi, dia akan tetap menyisihkannya.  "Insya Allah, bulan depan aku bisa pinjamkan uangku untuk membantumu, walau tidak banyak", begitu janji Wulan terucap didepan Dikdik. "Aku pegang janjimu, lan". Dikdik berlalu seraya menyeringi. "Seandainya dia tahu kemana saja uangku pergi..."

Hari berganti, seperti yang Wulan lalui setiap hari, bekerja di ranah publik, menjadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan dua anaknya juga masih berkutat mengasah ilmunya di level universitas. Kalau ditanya kemana saja uangya mengalir maka jawabannya adalah bisa dilihat dari pengualarannya yang dialokasikan untuk membantu memenuhi kebutuhan dapur, anak sekolah, memberi sang ibu serta keluarga kakaknya. Terbayangkan bagaimana kerasnya dia harus berbagi pendapatannya yang sebesar Rp 2.700.000-. Dia harus benar benar disiplin dan konsisten untuk menjalankannya. Tidak ada anggaran untuk memenuhi kebutuhan pribadinya apalagi hanya sekedar membeli bedak tabur yang harganya tidak lebih dari Rp 25.000-. Apa yang diinginkannya hanya tertulis dalam catatan perencanaan anggaran setiap bulan. 

Dibalik beratnya hidup Wulan yang harus berinisiatip untuk membantu keuangan keluarga, dia juga harus menyisihkan uang untuk membayar uang kuliahnya di sebuah Universitas Terbuka. Wulan bertekad menyelesaikan belajarnya yang tinggal tiga semester  itu dengan belajar bersungguh sungguh dan mengambil pekerjaan sampingan seperti meronce yang hasilnya akan dia tabung. Tidak pernah terbesit dalam benak Wulan untuk meminta bantuan biaya kuliah pada suaminya karena sang suami sudah mengultimatum jika dia tidak akan membantunya dengan alasan tidak sanggup membayar iuran kuliahnya setiap bulan. 

Lelah, letih juga berat beban yang Wulan rasakan, dia tetap mensyukuri rezeki yang dia miliki. Allah maha baik, begitu pola pikirnya. Dia senantiasa merasa beruntung karena rezeki yang dia hasilkan dan dia bagikan mendapat imbalan lain yang tidak disangka-sangka dan di situlah dia merasa bila Tuhannya tidak tidur. "Apapun yang bisa kita bagikan sebagai sedekah, pasti akan kembali kepada kita", gumam Wulan setiap kali dia memulai pekerjaannya sebagai cleaning service dengan penuh semangat dan keyakinan untuk kebaikan dirinya serta keluarganya.







Jumat, 10 Januari 2025

Start a new habit : Writing

 ALA BISA KARENA BIASA



Tidak ada kata terlambat untuk memulai apalagi kegiatan yang baik dan berdampak positif baik untuk pengembangan diri maupun peningkatan keterampilan diri. 

Akhirnya, setelah beberapa waktu hanya menjadi peminat karya karya KLIP, aku mendaftar juga pada tanggal 31 Desember 2024. Tepatnya satu hari sebelum pendaftaran ditutup. Tidak ada harapan muluk yang aku buat, tetapi realitis menapaki kegiatan yang baru aku tekuni semenjak ikut bergabung di RB Menulis IP Jakarta di tahun 2016. 

Iseng-iseng aku coba cek isi ceritaku yang bertema "Suryakanta". Maksud hatri hanya ingin memeriksa apakah ada masalah dengan ceritaku yang berjudul "Faktor U", di aplikasi Grammarly. Walau berbasis bahasa Inggris, semoga apa yang mesin itu cek benar adanya, yaitu tidak ditemukan masalah yang berkaitan dengan tata bahasa, ejaan, tanda baca, kemudahan dibaca, keringkasan cerita, pilihan kata, tambahan masalah penulisan ataupun plagiarisme. 

Belajar menulis fiksi sudah aku mulai ketika mengikuti grup di Rumah Belajar Menulis IP Jakarta, dengan tujuan untuk melatih menulis cerita yang membutuhkan imajinasi atau khayalan. Sebenarnya semua cerita yang sudah aku tuangkan diplatform blog ini berbasis cerita nyata tetapi aku gubah sedikit dengan memberi nama pelaku, tempat serta kejadian yang diatur berdasar imajinasi sederhanaku.

Satu bagian yang selalu membuat mataku mengerjap ketika tulisan yang sudah diterbitkan kubaca ulang. Ada yang bikin aku bertanya-tanya, kok bisa ya aku menulis cerita ku sendiri seperti ini. Pilihan kata yang aku tuangkan dan kubaca kembali membuat aku berpikir ulang dari mana kosakata kosakata itu aku dapatkan. Walaupun tidak kupungkiri salah satu hobi baruku mulai tahun 2022 yaitu membaca novel online gratis "FIZZO" yang banyak memberiku tambahan kata kata baru yang langsung aku terapkan di cerita ceritaku. 

Yang masih mengganjalku sampai hari ini adalah, keterbatasan aku mengembangkan cerita. Aku masih senantiasa terjebak di satu tempat saja, seperti "rat race" dan berakhir denga kata buntu. Ketika berimajinasi, seolah olah ceritaku mengalir teratur tanpa jeda tapi setelah dituangan dalam rangkaian kata, kalimat dan paragrap, lho kok malah berputar-putar tidak jelas dan isinya malah membosankan, alurnya berantakan dan tidak jelas mau diarahkan kemana. 

Ala bisa karena biasa mungkin pepatah yang bisa aku jadikan acuan untuk sedikit demi sedikit menulis di kisaran jumlah kata 400 sampai 700. Untuk menyusun alur yang lebih panjang mungkin harus banyak membaca buku cerita, novel atau referensi lain yang mendukung. Semoga tidak patah semangat, seperti pepatah alon-alon asal kelakon.

Rabu, 30 Oktober 2024

CHALLENGE @49

I'M  ALWAYS OK WITH A SMILE


Kata orang, "Life begins at forty". Apakah mungkin itu bermakna kita akan menemukan kesulitan tau hambatan hidup setelah kita memasuki usia 40 tahun atau mungking ada sebagian yang berasumsi bila usia 40 itu rawan dengan "puber kedua". Gumam Lyda yang mencoba mengartikan kata kata "Hidup dimulai di usia 40 tahun". Aku kan sekarang usianya sudah 49 tahun, dan pastinya bagiku semua tantangan hidup justru dimulai di usia 48 tahun pada saat aku membuat keputusan besar untuk berhenti bekerja dan memilih menjadi ibu rumah tangga yang harus mendampingi 4 anak ABG. Walaupun yang tertua sedang belajar di negeri jiran tetapi rasa was was tetap menyertainya. Belum lagi 2 ABG laki-laki yang sudah sulit diatur bahkan untuk mengerjakan sholat yang pengerjaannya cuma 5 menit dan malah asyik dengan permainan daring. Tantangan berikutnya adalah ekonomi. Lyda yang memutuskan hanya akan menjadi pekerja lepas pun harus bersiap dengan pendapatan yang turun drastis, belum lagi sang kepala keluarga hanya memberi uang belanja 50 ribu yang artinya Lyda harus memutar otak untuk mengatur belanja serta pengeluaran yang lain. Sedih, itu pasti. Kecewa itu jelas. Karir yang sudah ditekuninya lebih dari 20 tahun dia relakan dilepas karena dia memilih keluarga serta anak anak yang harus didampingi dan dijaga. 

"Mengapa sesulit itu hidup yang aku jalani ini ya Allah", apakah aku berada di bawah saat ini sedangkan pada saat aku leluasa, aku begitu menikmati hidup, tidak kekurangan materi, Alhamdulillah kebutuhan rumah tangga aman tetapi sekarang....." Lyda mengeluh dan kemudian dia segera beristighfar karena merasa lelah dengan kondisi kehidupan keluarga nya di tahun ketiga di tempat baru. Tidak ada pengasuh yang membuatnya melepas pekerjaan purna wakt dan tidak ada ART yang bisa dibayar karena pendapatannya pun habis untuk makan keluarga. Bagaimana hari esok pun, Lyda masih tetap berpikir positif bila Allah SWT akan memberi keluarganya rezeki. Satu yang selalu dia usahakan dan afirmasi ke dirinya adalah kata kata: I'm OK with a smile. Seberat apapun perjalanan hidup yang akan dia lewati, baik sebagai istri, ibu serta anggota masyarakat, tetap kata profesional dia upayakan untuk terealisasi. 

Memutar otak, berupaya dan berdo'a mungkin bagian yang harus Lyda lakukan dengan lebih keras lagi agar dia tidak terlalu oleng dan tetap bisa menjaga kewarasannya. Apa yang dia baca di cerita cerita Novel online ternyata kejadian juga pada dirinya. Beratnya beban hidup dengan 4 anak yang harus dia jaga adalah pekerjaan rumahnya bersama suami sampai mereka dewasa dan setidaknya ketika mereka lulus sekolah menengah atas mereka bisa hidup mandiri. Tidak ada kata lelah yang boleh terlintas di pikiran Lyda, karena kata tersebut akan menjungkalnya jatuh dan membuatnya tersungkur dan membuat syetan mudah membuatnya berputus asa.                                 

"Jalanku masih panjang, ya robb. Berikan kami kemudahan jalanMU membimbing putra-putri kami menjadi anak anak salih dan saliha", Berikanlah kami tambahan rezeki sabar, istiqomah dan materi agar kami senantiasa mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kami", Do'a yang Lyda panjatkan di akhir setiap sholat malamnya. Lyda pun memulai kembali hari barunya dengan afirmasi "Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin dan besok harus lebih baik daripada hari ini!







Selasa, 22 Oktober 2024

Writober #10 Candala

 APAKAH YANG DI BAWAH HARUS TERHINA



Roda kehidupan berputar. Semua orang akan mengalami pahit manis kehidupan yang mereka jalani. Seperti Naila yang sedang merenungi keadaanya yang dia rasakan semakin lama semakin berat. jangan melihat selalu ke atas dan jangan merasa rendah diri...

 Seberat apapun beban hidup kita, satu yang harus tetap diingat dan dijalankan yaitu Syukur. Bersyukur atas segala rezeki yang telah kita tterima baik secara finansial mauupun non-finansial. Memiliki badan yang sehat pun adalah rezeki yang harus disyukuri dengan memanfaatkannya sesuai kapasitas kita. Hindari mengeluh hanya karena kita tidak memiliki fasilitas yang memudahkan kita bergerak. Hindari menggerutu ketika kita harus berjalan kaki ke suatu tempatt ang berjarak 300 - 500m. Mari kita ganti dengan ungkapan hamdalah, karena kita memiliki kaki utuh yang sehat dan kuat berjalan walau akan memakan waktu lebih lama, tetap kata kuncinya adalah bersyukur. 

Selain itu, hadits nabi mengatakan' "Lihatlah ke bawah", artinya lihatlah kepada situasi atau kondisi yang lebih buruk dari yang kita pikir dan jalani. ada ribuan bahkan jutaan orang yang mengalami kesulitan ekonomi, bisa jadi kondisi ekonomi kita masih lebih baik dari mereka. 

mengendalikan hawa nafsu memang yang tersulit karena kita manusia ingin sesuatu yang lebih nyaman lebih baik dan lebih tinggi dari kondisi orang lain. Mengingat banyaknya kemudahan hidup dari sang Maha Pencipta, bisa menjadikan kita sadar diri bahwa kita hanya bisa bergantunng kepada-Nya. Tidak ada tempat selain meminta-Nya karena semua yang kita milikii pasti akan kembali kepada pemiliknya.

Dahsyatnya kata syukur atau berterima kasih akan menurunkan keinginan yang mendesak karena bisa jadi itu adalah bagian bisikan yang membawa keburukan. Tidak ada yang menginginka hidup sulit dan menderita yang ada adalah bagaimana menerma setiap rezeki yang Allah SWT berikan kepada kita. Semoga  aku termasuk orang orang yang bersedia belajar dan meningkatkan kemampuan diri untuk terus bersyukur dan berusaha keras menjemput rezeki yang sudah Allah atur. 

#writober2024
#Candala
#RBMIPJakarta
#IbuProfesional

Writober #9 Kenes

IBU PROFESIONAL ITU ....



"Semakin cepat kuselesaikan mencuci baju pagi ini semakin bagus, karena akan ada lagi pekerjaan-pekerjaan lain yang menunggu". Itulah satu kalimat sarat makna yang akan aku ucapkan setiap hari. Rununtan daftar pekerjaan rumah mulai jam 03.30 sampai jam 21.30 WIB adalah agenda rutinitas yang idak boleh absen walau satu haripun kecuali Udzur. 

Semenjak memutuskan pindah rumah dan memilih Bekerja di rumah (Work from Home), maka tugas tugas ku pun bertumpuk karena semuanya dikerjakan di rumah. Mulai bangun tidur aku sudah harus segera ke dapur menyiapkan sarapan juga bekal makan untuk suami dan anak anak sekolah. Mencuci pirang sisa semalam, lanjut mencuci beras dan menyiangi bahan bahan makanan yang akan kuolah hari ini. Walaupu tidak banyak macamnya, tetapi bila tidak segra dieksekusi maka semuanya akan berantakan. Salah satu indikatornya adalah masakan yang seharusnya sudah masuk ke wadah makan jadi memakan waktu karena menunggu nasi, lauk pauknya hangat. Belum lagi pekerjaan lain seperti membereskan alas tidur, bantal selimut. lanjut menyiapkan baju seragam anak anak, ikat pinggang, dasi dan topi termasuk buku buku pelajaran dan sepatu plus kaos kakinya. 

lanjut ke kegiatan berikutnya, membangunkan anak anak untuk sholat subuh, meminta mereka mandi dan berpakaian juga sarapan. Jika kondisi nya baik baik saja maka semuanya berjalan lancar tidak ada drama bangun pagi atau demo urat syaraf karena enggannya mereka bangkit dari kamar. Semua berangkat keluar rumah dan berikutnya adalah mencuci pakaaian secara manual karena mesin cuci yang ada sedang mogok, jadilah memakan waktu sekitar 1,5 jam untuk mencuci, membilas dan menjemur. Rehat sejenak, lanjut menyetrika baju sampai jam 8.30 wib. kemudian beberes kamar, cucian piring sisa sarapan dan menyapu juga mengepel. Rentetan pekerjaan itu harus segera selesai sebelum masuk kerja jam sembilan dengan duduk manis di depan PC sampai jam 17.00 wib. Ketika anak anak pulang maka akan ada break yang harus aku ambil untuk menyiapkan makan siang mereka. jam istirahat siang biasanya ku maksimalkan dengan memasak pesanan anak anak. 

Itulah aku dengan keseharianku selama kurang lebih satu tahun setengah. hari hari ku bertambah berat ketika mesin cuci rusak dan aku harus mengganti cara mencuci secara manual. Bila diurut mulai no1 sampai no akhir maka aku seperti seorang karyawan yang memiliki waktu kerja yang lumayan panjang karena setelah jam 17.00 wib., pekerjaan lain menunggu seperti mencuci piring, mamasak makan malam dan menemani anak belajar. 

Semua kegiatan harian seorang ibu pasti berbeda dengan kondisinya, di mana mereka harus siap siaga, bekerja dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab denga pekerjaannya. Seperti karyawwan profesional yang memiliki tupoksi, aku pun memiliki jadwal kerja rumah yang sudah pasti dan semuanya harus selesai tepat waktu. Bila dikomparasi dengan karyawan kantor yang harus profesional bekerja, maka kami pun melakukan hal yang sama hanya saja mungkin bayarannya adalah ridha serta ganjaran kebaikan serta mengharapkan rezeki yang halal dari sang Maha Pemilik kehidupan. Semoga semua ibu bangga seperti aku yang bangga jadi ibu rumah tangga juga bangga menjadi karyawan daring.


#writober2024
#Kenes
#RBMIPJakarta
#IbuProfesional

Writober #8 Mangkus

 SARIAWAN


"Rena, beliin mama pasta gigi PGH yang bikin mulut segar dan gak gampang sariawan ya". Emak sudah terbiasa dengan pasta gigi yang khusus merawat gigi agar terjaga kebersihannya dan terhindar dar bau mulut apalagi sariawan.  

"Bukannya cukup sikat gigi yang rajin aja mama, kita gak bakal sakit sariawan kan?" Tanya Rena yang penasaran mengapa emaknya memesan khusus dengan menyebut merknya. "Betul yang kamu bilang, Rena. Cuma emak udah cocok pake pasta gigo yang itu. Apalagi emakkan umurnya udah lebih dari 55 tahun, dan dulu sering sariawan. Nah sekarang udah ketemu yang cocok ya emak gak mau ganti merk lain" Rena hanya mangut-mangut mendengar penjelasan emaknya tentang pengalaman kesehatan mulutnya. "Emak, Rena punya ide bagus nih! Mau denger gak mak?" Rena dengan senyum lebar memberikan ide nya. "Ide apaan sih Ren. Jangan bikin heboh lagi ya kamu. Emak gak mau bantuin kamu bikin konten yang bikin emak diketawain orang sekampung!" Cemberut wajah Emak yang nampak curiga denga ide yang akan dilontarkan Rena. " Gak mak. ini gak akan memalukan Emak, Ide Rena murni mau ngajak orang orang rajin gosok gigi. Apalagi manfaatnya bisa bikin nafas segar, plus gak kena sariawan. "Gimana mak? Setuju kan sama ide keren Rena?. Emak yang jadi bintangnya, jangan lupa mak kalau yang ngelike kita buanyaaaaak, kita bisa dapet cuan plus pahala karena udah menebar kebaikan." Rena berapi api menggiring sang emak untuk sepakat dengan aksi berikutnya sebagai Vlogger  amatir. "Nanti emak pikirin dulu yak", Emak merespon sambil berlalu pergi ke dapur.

"Wow mak, lihat nih hasil demo Emak yang dahsyat!" Rena begitu senang sambil senyum senyum sendiri dengan angka Like yang dia lihat di story IG nya. "Apaan yang dahsyat, Ren? Ngomong tuh yang jelas, jangan bikin emak keder!" Emak yang bingung dengan ekspresi bahagia anaknya pun duduk di samping Rena dan ikut melihat video pendek yang ada terpampang di gawainya Rena. "Nih lihat mak, Emak udah berhasil ngajak orang sikat gigi dan pesan emak dapat lima ratus Like!, hebat kan mak! Rena tersenyum puas dengan hasil yang dia presiksikan sebelumnya. Emak pun senyum-senyum sendiri menyaksikan aksi nya yang penuh percaya diri serta mempromosikan salah satu produk pasta gigi yang menurut beliau manjur untuk semua kalangan. "Kalo kata emak sih Ren, kita harusnya promosi ke setiap rumah biar semua orang sehat mulutnya plus kita dapat uang karena sekalian jualan pasta gigi yang emak pake ini" khayal emak sambil menopangkan tannganya di dagu beliau. "Memang emak sanggup datangin door to door gitu biar kita dapat dobel untung?" Emak cape gak kalau harus keliling rumah orang seharian? Kan emak juga punya kerjaan?. Emak hanya tersenyum dan mengaggukkan kepala. "Kalau ada niat mah pasti aa jalannya, Ren, trus siap siap sukses! Kenapa gak promosi lewat HP emak aja sih mak? Emak gak perlu keluar rumah, panas pansan, ngetukin pintu tiap rumah trus omom omon yang diulang ulang. Rena mencoba mengalihkan cara emak yang kurang kekinian menurutnya. "Bakal berhasil gak tuh, Ren? Kalau begitu caranya?" Emak kan mau bagi bagi pengalaman yang bisa dapat pahala. Emak  menampakkan wajah seriusnya. "Insya Allah mak, manjur juga kok. Tapi kalo emak mau door to door juga gak apa apa sekalian silaturahmi". Semangat Rena sambil mengangkat du jempolnya pertanda sepakat.

#writober2024
#Mangkus
#RBMIPJakarta
#IbuProfesional

Peristiwa #19

TODAY IS THE DAY